Laze Ingin Hip Hop Lebih Membumi dalam Puncak Janggal

Dua tahun berselang setelah Waktu Bicara, Havie Parkasya atau Laze mengeluarkan album keduanya yang bertajuk Puncak Janggal. Album itu berisikan 14 lagu yang bercerita mengenai kehidupan yang dijalani manusia dari kacamata Laze.

Judul Puncak Janggal dipilih Laze sekaligus untuk menggambarkan isi albumnya. Menurut dia, manusia rentan merasakan kebingungan ketika tiba di puncak yang selama ini mereka daki karena rupanya apa yang ada di atas tidak selalu sesuai ekspektasi.

Lagu-lagu dalam album Puncak Janggal juga berisikan renungan Laze terhadap ketenaran yang terkadang ia pandang fana.

"Puncak janggal adalah situasi saat lo kita lagi di atas tapi banyak hal janggal karena nggak sesuai ekspektasi. Saat beradaptasi biar bisa memanjat ke puncak, rasanya nggak nyaman dan nggak cocok," ujar Laze dalam siaran pers yang diterima. 

"Album ini tentang manusia, dalam hal ini gue, di kehidupan yang mendambakan puncak, penasaran apa yang ada di sana," jelas dia lagi.

Laze berkata hal itu berangkat dari pengalaman pribadinya saat merintis karier sebagai musisi. "Dari kecil gue ingin banget jadi musisi dan ternyata itu nggak seindah kelihatannya," tutur Laze.

Menariknya, dalam album tersebut Laze mencoba membuat hip hop lebih membumi dan dapat dinikmati lebih banyak orang dengan melakukan pendekatan pop.

"Gue ingin orang-orang bisa lebih nyaman dengar lagu hip hop," kata Laze.

Kolaborator yang dipilihnya untuk album ini pun beragam dan datang dari luar kancah hip hop. Mereka antara lain Kay Oscar pada Teman Lama, Petra Sihombing pada Pertanda Baik, Kara Chenoa pada Turun dari Langit, Ben Sihombin pada Dari Jendela, Hindia dalam Sementara dan Mono di Kemenangan Sejati.

Sedangkan kolaborator utama Laze untuk musik adalah Randy MP dari Parlemen Pop. "Yang bikin gue tertarik kerja bareng dia adalah kemampuannya memainkan alat musik. Jadi ada lebih banyak sound instrumen analog, termasuk synth, strings, dan terompet," kata dia.
Publish on : 18 November 2020